Archive for the about LINEZ Category

Kami Juga Manusia yg Mempunyai Hak untuk Memilih ~ Lesbian & Gay

Posted in about LINEZ on Desember 23, 2012 by Rr Andriana

Ada yang menyebutnya kelainan, ada juga yang menyebutnya sebagai trend.
Begitulah kontroversi kepada orang yang suka sesama jenis.
Suka sesama jenis bukanlah hal yang terdengar asing di telinga masyarakat.

Fenomena suka sesama jenis ini tampak sangat nyata dibeberapa tempat hiburan yang memang dibuka khusus untuk mereka.

Ada 2 sebutan untuk penyuka sesama jenis:
1. Gay
2.Lesbi

1. GAY adalah lelaki yang menyukai sesama lelaki.
Ada 3 tipe gay :

13233335761374099281

Top yaitu lelaki yang dalam hubungan sexual berperan sebagai lelaki (Suami) Umumnya cenderung berpenampilan rapi dan Macho.

Bot yaitu lelaki yang dalam hubungan sexualnya berperan sebagai wanita (Istri) Umumnya cenderung berpenampilan sedikit feminim

-Dan yang terakhir Vers yaitu yang mempunya peran vleksibel. Umumnya cenderung berpenampilan layaknya orang normal.

2.Lesbi yaitu wanita yang menyukai atau tertarik pada sesama wanita.
ada 4 tipe lesbi :

13233336361681446554

Buchi atau yang dalam hubungan sexual berperan sebagai laki-laki atau suami, Umumnya cenderung berpenampilan Tomboy.

Femme atau yang dalam hubungan sexual berperan sebagai wanita atau istri, Umumnya berpenampilan feminim dan Seksi.

Vers yang dalam hubungan sexual berperan vleksible bisa Buchi atau Femme, Umumnya berpenampilan biasa saja.

-yang terakhir adalah No Label atau yang baru berkecimpung di dunia lesbi dan blum tau ke arah mana orientasi sexualnya.

Homosexual atau penyuka sesama jenis bukanlah penyakit menular, Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama.

Homoseksualitas adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksualitas dan heteroseksualitas, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual.

Mereka juga sama seperti kita, mereka juga manusia yang mempunyai hak yang sama dengan kita, lalu mengapa kita mendeskriminasi mereka?
Itu bukan pilihan mereka, mereka juga tidak mau jadi seperti itu. seandainya mereka bisa berkompromi dengan tuhan tentu meraka ingin seperti kita.

Mereka bukan sampah masyarakat mereka sama seperti kita. hanya saja orientasi sexual mereka yang berbeda dengan kita, bukankan pancasila mengajarkan kita bahwa  ”Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Lalu mengapa kita mendiskriminasikan mereka? apa kita lebih baik dari mereka? apa kita lebih hebat dari mereka? Buka mata hati kita dan lihat sekeliling kita, mereka ada disekitar kita. mereka bagian dari masyarakat kita.

Jangan pernah memaksa mereka untuk berubah seperti kita. Biarkan mereka jalani kehidupan mereka tanpa harus mereka berubah menjadi orang lain.

Pernahkah kita berpikir seandainya kita di paksa untuk berubah seperti mereka, apakah kita sanggup menjalaninya??? pasti tidak mungkin. begitupun mereka. Biarkan mereka menentukan jalan mereka sendiri.

Inilah Curahan hati seorang penyuka sesama jenis.
Nggak pernah dulu waktu dijaman dalam kandungan juga, gue minta jadi banci kya gini. Gue bukannya nggak ngerti dosa say, siapa sih yang mau jadi banci gini. Duuuhh rempong deeh. Mo pake rok salah, pke clana apalagi. Kalo bahasa kita-kita sih ngikutin tuntutan naluri ajah, ngalir ajah. Nggak tahu juga ya, masa` tuhan yang maha kuasa naruh ruh gue dibadan yang salah, yah kalo kita sih cuma bisa nyalahin tuhan say, walo kita tahu mana mungkin tuhan ampe salah ya, hee… yah cuman sekedar ngelegain rasa nyesek diati ajah.

Berat say, berat banget. Musti dimusuhin kiri kanan, diusir dari keluarga, dibilangin manusia jadi- jadian pula. Tapi mau gimana lagih, ya gue mau nggak mau nerima lah. Tapi yang kita- kita heran yah, orang- orang yang ngaku normal en baik yang ada malah bukan ngerangkul gue, paling nggak kasih apa gitu. Bukan apa- apa say, tarohlah mereka jijik ma gue ini, yah emang kita kotor sih, tapi mereka kan pada ngaku kalo orang- orang normal gitu katanya, lurus- lurus aja, tapi setelah ngeliat sikap mereka, gue sendiri nggak bisa ngebedain dia sama gue.

Maksudnya, yah gue kan udah kaya’ gini ya mereka kudu lebih baik donk kalau ngaku baik. Eh yang ada malah nyiksa gue, ngatain gue sampah lah, makin eneg liatnya. Apa sih beratnya nanya dulu ama gue, `kenapa, mengapa` ato pertanyaan kasih sayang laennya, kita ngomong baek- baek, nasehatin gue baik- baik. Pasti ada sebabnya say, knapa gue jadi kya gini sekarang. Gue pengen berubah, asal ada yang paham en sabar nuntun gue en temen- temen.

Oke kalo orang bilang gue hina, tapi trus kalo mereka yang jahat ke gue itu apa? apa yang mereka lakuin itu juga nggak lebih jahat? Gue jadi kaya gini, bukan cuman cobaan buat gue, tapi cobaan juga buat mereka donk say. Masak tuhan cuman pengen liat gue baik, tuhan juga pengen pasti liat mereka lebih sabar donk dalam ngedidik gue. Gue mau kok kalo ada yang ngajarin gue, cuman masalahnya tuh orang yang pada ngaku-ngaku baek, ternyata nggak sabar, en mau gue berubah cuman dalam sekali duduk, pan susah say.

Bunuh aja gue, tapi apa  itu bakal ngubah teman- teman gue yang lain, dari kehidupan yang selama ini mereka jalanin?. Jujur, siapa yang mau hidup kya gini say, takut gue kalo tiba- tiba ntar gue mati kya gimana dong? gue en temen- temen cuman butuh orang yang dengan santun, arif dan sabar yang bisa nunjukin salah kita. Bodoh ya, salah sendiri aja kok nggak bisa nyadar en kliatan gitu. Hee…Ya emang kita bodoh, mangkanya kita butuh dituntun. Asli, gue bukannya nggak sadar kalo ni dosa, tapi gimana ya mata hati rasanya dah ketutup. Mangkanya kita- kita butuh bantuan buat ngebuka hati. Susah say, susah bener buat kita nih.

Gue nggak marah kalo ada yang bilang `anjing cowok aja nggak kan mungkin suka ama anjing cowok`. Gue sepenuhnya tau rendahnya kya apa hidup bgini. Tapi gue bingung mau ngebilangnya say, cuman apa mereka juga bakal kuat kalo mereka yang melakoni hidup kya gue. Mangkanya kita semua ini butuh bantuan, jangan hanya maki- maki gue. Gue sendiri sediih say.

Kadang gue sedih ngeliat orang- orang kaya. Kaya kok dinikmatin ndiri, mpe kita kudu kerja jadi bencong ginian cuman buat makan.  gue ama koruptor hina mana sih say? gue cuman nyakitin diri sendiri, anggap ajah gitu. Tapi mereka pan ngambil segitu banyak harta orang en buat orang lain miskin. Amit- amit dah orang kya begitu.

Okay, kembali ke yang tadi ya say, Gue en temen- temen juga punya niat berubah kok. Asli kita mau berubah, tapi ya gue juga butuh proses donk, percuma kalo gue cuman baek tapi karbitan. Kalo aja mereka ngerti gue juga dalam rangka ngebantah keinginan gue buat tetap jd kya begini say… Kalo kata Allah ya, hidayah itu cuman mutlak Dia yang bisa beri, lo mau nggak doain gue biar gue juga bisa jadi orang baek en hidup normal kaya` yang laen- laen. Pake sarung ke masjid, en suka ama perempuan. Temen- temen gue yang lain juga kembali pake mukena en bisa merit sama cowok, yang normal- normal ajah gitu pokoknya…kalo tuhan udah berkehendak katanya apapun bakalan jadi kan say… doain kita ya, doain kita. Bantuin kita…

Akan kah kita tetap menutup mata kita??? Terima mereka dalam kelompok masyarakat kita. jangan sisihkan dan jauhin mereka. Mereka adalah bagian dari masyarakat kita juga kan??

Sinopsis Novel Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan

Posted in about LINEZ on Desember 23, 2012 by Rr Andriana

Ketika hubungan kasih antara Ika dan Anggie terungkap, Ika seorang remaja berprestasi harus pindah ke sekolah lain. Sedang Anggie harus berusaha memenuhi harapan orang-tuanya, dan berjanji untuk menghentikan hubungan cinta yang tidak wajar dengan Ika dan berusaha membalas cinta Alvin, seorang dosen muda usia.

Jarak yang berjauhan dan tembok-tembok kekuasaan beralatkan norma-norma umum ternyata tidak sanggup melunturkan cinta yang begitu merasuki jiwa masing-masing. Tali kasih yang menjalinkan hati keduanya ternyata tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Sehingga setelah Anggie mencapai usia 21 tahun di mana dia dianggap layak untuk memutuskan sendiri nasibnya, dia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.

Lalu apakah kedua insan manusia yang memilih jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang, akan menemukan kebahagiaan mereka? Tahukah mereka ke arah mana harus melangkah ketika berdiri di persimpangan jalan?

Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan adalah karya Ernest J.K. Wang. Ernest lahir di tapal batas antara Indonesia dan Malaysia. Setelah melalang buana dan meyelesaikan S2 di bidang bisnis, Ernest sekarang menetap di Surabaya. Adapun karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain, “Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming” dan “Bukan Putri Angsa”,

Love You Till End , Novel Ringan Tentang Kisah Lesbian

Posted in about LINEZ on Desember 23, 2012 by Rr Andriana

Posted by PuJa on May 20, 2012

Mila Novita
Sinar Harapan, 28 Maret 2009

Sebagian orang percaya bahwa apa yang tertuang di karya fiksi sesungguhnya menggambarkan realitas dalam masyarakat. Ketika realitas terlalu tabu untuk diungkapkan secara nonfiksi, fiksi pun menjadi pilihan.

Begitulah Mery DT, seorang penulis yang baru pertama kali menerbitkan novelnya, ketika mengangkat isu lesbian. Judulnya terasa “sangat Inggris”, Love You Till The End. Novel terbitan FoU Media Publisher ini sekilas seperti menggambarkan percintaan biasa, antara laki-laki dan perempuan. Tokoh utamanya bernama Audrey yang berpasangan dengan tokoh Junet, nama yang bias gender, bisa laki-laki, bisa pula perempuan. Di awal novel, Mery menceritakan bagaimana ketidaketenangan Audrey dalam mengarungi hidupan dengan seorang suami di sampingnya. Memasuki bab berikutnya, barulah Mery berani mengungkapkan alasan ketidaktenangan Audrey itu.

Ya, Audrey pernah mengalami asmara yang masih tabu untuk dibicarakan di muka umum, ia seorang lesbian. Junet adalah pasangan lesbiannya. “Kehidupan wanita yang seperti ini jarang ditulis, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa kehidupan seperti ini ada,” ujar Mery dalam peluncuran novel setebal 183 halaman itu di Kinokuniya Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (27/3).

Mery menjadi satu di antara beberapa penulis yang mulai berani untuk mengisahkan hal yang bagi sebagain besar orang Indonesia masih tabu meskipun di Amerika Serikat, novel-novel seperti ini sudah banyak bermunculan. Sebelum dia, Alberthiene Endah juga pernah menulis kisah cinta sepasang lesbian dibalut dengan konflik dunia narkoba dalam Jangan Beri Aku Narkoba yang kemudian difilmkan menjadi Detik Terakhir. Novel itu mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia sebagai buku remaja terbaik.

Ratih Kumala juga pernah mengangkat isu ini dalam novelnya berjudul Tabula Rasa. Novel itu menjadi juara ketiga dalam kompetisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003. Lalu, ada Ernest JK Wen yang membuat Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan. Clara Ng pernah muncul dengan novel Gerhana Kembar, juga Herlinatiens dengan Garis Tepi Seorang Lesbian.

Kurang Maksimal

Kamelia, seorang lesbian, mengatakan bahwa novel Mery DT ini sangat baik untuk pembelajaran masyarakat tentang para lesbian. Mery memang tidak terlalu banyak melakukan riset. Ia hanya mengamati perilaku para lesbian ditambah dengan bahan bacaan dari internet. Mery bukan satu di antara para lesbian itu.

Namun, bagi Kamelia, justru itu yang menjadi kelebihan Mery. “Dia adalah seorang heteroseksual yang terbuka pikirannya untuk bisa menerima adanya golongan lain,” kata Kamelia yang menghadiri peluncuran novel itu.

Sayangnya, novel ini kurang digarap maksimal. Masih banyak keslahan ketik yang bisa ditemukan. Belum lagi kesalahan ejaan bahasa yang semestinya menjadi tanggung jawab penerbit.

Mery ingin membuat novel ini menjadi bacaan ringan dengan kalimat-kalimat yang sangat pop, khas anak muda di zamannya. Ada kesan, Mery juga berada di persimpangan jalan ketika menentukan gaya bercerita. Di awal, ia menggunakan gaya diaan (menggunakan sudut pandang orang ketiga) serba tahu, lalu tiba-tiba berubah menjadi akuan (sudut pandang orang pertama).

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/love-you-till-end-novel-ringan-tentang.html

Lesbian Laki-laki >> next

Posted in about LINEZ on Agustus 6, 2012 by Rr Andriana
Review LesBian Laki-Laki Nov 7, ’06 11:57 PM
for everyone
Category: Books
Genre: Gay & Lesbian
Author: Deodjha

“…simpulkan sendiri apakah semua karena kamu tetap menjadi seorang lesbian atau bukan. Aku juga lesbian kan, tapi aku tidak bodoh. Menurutku itulah masalahnya, menjadi bodoh,” benar apa yang dikatakan Pandhu….
“Semua karena aku belum bekerja, … tidak seperti Mahazza yang perlente itu…,”
“Dia matrelialistis juga ya…,”
Aku adalah seorang penganut kesedihan , keputusasaan dan kesedihan dan ketiadaan. Kosong dalam kungkungan bejana menyesatkan.setia dalam bara tanpa arti dan takut meski ingin berteriak padamu, “berhenti mencampakkanmu, perempuan!” (h. 135).

Buku setebal 209 halaman ini mengisahkan tentang seorang perempuan (23 tahunan) yang memutuskan menjadi seorang buchie (lesbian laki-laki) bagi seorang pasangan femme (lesbian perempuan). Ini merupakan sebuah testimony yang disusun seperti sebuah novel yang bertutur sendiri atau sebuah monolog yang ingin disampaikan kepada pasangannya yang sudah meninggalkannnya, sebagai jalan terakhir mengungkapkan cintanya yang tak berkesudahan.

Sangkala Senja –tokoh utama dan dipanggil Senja saja-dalam buku ini, mengisahkan pengalaman pahitnya ketika masih kanak-kanak, ia bersama kakak perempuannnya sering mengalami kekerasan baik fisik ataupun mental yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Semua terjadi lantaran ibunya tak mampu memenuhi kebutuhan fisik anak-anaknya akibat perceraian, ibunya seorang single parent yang tak mampu berkerja. Meskipun mereka adalah ningrat tapi mereka hidup miskin layaknya rakyat biasa. Tidak terlalu jelas Senja mengungkapkan silsilah keluarga, ini hanya pengantar saja pada latar belakang yang akhirnya ia harus diasuh oleh saudara yang lain. Akhirnya Senja pindah ke Jakarta bersama dengan ibu bapaknya yang baru dan keempat kakak laki-lakinya. Menurut pengakuannnya sebelum bertemu mereka, Senja sudah merasa diri suka dengan perempuan dan sedih sekali waktu ditinggalkan guru perempuannya semasa TK. Bersama dengan keluarganya yang baru ia tumbuh menjadi kanak-kanak yang tomboy dan disayang oleh keluarganya karena bagaimanapun ia anak perempuan satu-satunya.

Radarnya yang merasa diri sebagai lesbian semakin dirasakan ketika remaja dan ketika tinggal di Surabaya ia sudah mempunyai pasangan perempuan. Saat liburan Senja pun berani membawa pacarnya itu kerumahnya. Semua keluarga curiga (meskipun ia berusaha sebiasa mungkin) dan menanyakannnya dengan gagah berani dan gentelment sebagai buchi laki-laki ia mengakui orientasi seksualnya. Dan dirumahnya juga mereka bercinta secara liar sebagai pasangan lesbian. Senja menceritakan bagaimana sepasang lesbi muda bercinta tanpa risi apalagi ragu. Dari pacarnya yang pertama ini, Senja sudah terlihat sebagai Buchie yang setia, meskipun ia tahu pasangannya tidak setia, ia mencoba sabar, setia dan berharap pasangannya berubah. (Singkat cerita karena gesekan-gesekan antara Senja dan keluarganya yang makin keras, membuat Senja memutuskan kabur dari rumah.)

Pacarnya yang pertama ternyata adalah hipersek, ia bisa bercinta berkali-kali dalam sehari. Suatu hari Senja memergoki pasangannya sedang bercinta dengan buchi lain dan akhirnya ia ditinggalkan olehnya. Pacarnya pergi menjadi seorang perek bagi laki-laki hidung belang dikota lain, ternyata ia bisa juga bercinta dengan laki-laki atau lebih tepatnya ia adalah biseksual. Kemudian ia memiliki pasangan lagi yang hanya berlangsung sebentar saja, seorang perempuan cantik, baik dan mapan, Senja tetap setia menunggunya di kos –kosan mereka, tetapi akhirnya perempuan itu memutuskan bahwa ia tidak bisa melanjutkan hubungan. Rupanya pacar keduanya itu secara jujur mengakui bahwa ia bukanlah lesbian murni, hubungan kemarin hanyalah coba-coba saja, ingin mencoba bagaimana bercinta ala pasangan perempuan. Karena putus Senja bingung, harus berteduh dengan siapa, akhirnya ia memutuskan tinggal dulu dengan Pandhu, seorang buchi yang menjadi sahabat baiknya.

Dari Pandhu ia bisa bertemu dengan Ninggar, lesbian yang menjadi kekasih hatinya. Bersama Ninggar, Senja menemukan cinta sepasang lesbi yang ideal, bersama Ninggar ia menemukan hari-hari bahagia, bersama Ninggar ia dimanjakan, merasa sangat diperhatikan dan disayang, bersama Ninggar jugalah ia mengalami hubungan seks – mendapat pengalaman sek- yang menyenangkan sebagaimana yang ia bayangkan. Bersama Ninggar, ia hidup aman dan terawat, ga perlu memikirkan tempat tinggal, karena ia setia menunggu Ninggar pulang kerja dan siap merawat dirinya.Kebersamaan yang membuaikan itu kemudian lenyap ketika Senja sakit-sakitan, dan Ninggar mengirim Senja pulang ke rumahnya di Yogya. Dari sanalah hubungan mulai renggang dan pada akhirnya Ninggar meninggalkannnya dan kembali pada pasangan lamanya Mahazza.

Penderitaan yang sesungguhnya bermula dari sana –meskipun dari awal novel ini sudah sangat sengsara-bermula dari perginya Ninggar yang begitu dengan mudah melupakan Senja. Ternyata Senja terus saja sengsara, berharap, menanti, setia, jatuh bahun, bathin yang tercabik-cabik dan Senja tidak bisa berhenti memikirkan Ninggar. Sampai-sampai kawan-kawannnya lesbi lainnya prihatin, kasihan dan membodoh-bodohinnya karena kesetiaan Senja yang konyol.
Ya, Senja terbelenggu sendiri dalam bayangan cinta yang ideal ala lesbian, yang semestinya setia, yang semestinya tidak menyakiti, yang semestinya hubungan sek dilakukan dengan perasaan-perasaan lembut perempuan, yang semestinya-semestinya lainnya….[karena ia mendengar pasangan hetero atau laki-lakinya sering tidak setia] e e e ternyata banyak juga ya –setidaknya sepanjang pengalaman hidup Senja-femme yang selingkuh. Senja sendiri tetap setia dengan Ninggar, mencoba menjaga kesucian dengan tidak berhubungan sek dengan femme lain –meskipun banyak yang naksir Senja-yang pada akhirnya pertahanan kesetiaan ini jebol oleh seorang femme [yang cukup memikatnya secara fisik saja, tidak demikian hatinya, hatinya tetap untuk Ninggar] yang berlangsung hanya semalam saja, untuk melepaskan nafsu biologisnya yang tak terbendung. Dan satu lagi pengalaman sek yang menyedihkan, Senja merasa diperkosa oleh femme -berjilbab dan religius – yang membuat Senja sangat traumatic. Dan pertemuannya denga femme muda belia, yang mencoba menggantikan Ningga disisinya, tak berhasil meskipun femme ini, muda, cantik dan nekat.

Kesedihan terus berlangsung, seolah tak ada celah atau sinar cerah yang hadir (any way saya sendiri yang membacanya sangat capek!! Dari halaman satu sampai akhir isinya penderitaaaan cintanya yang seolah tak ada kehidupan lain.) apalagi ketika mendengar kabar bahwa Ninggar menikah dalam arti yang sebenar-benarnya. Menikah dengan laki-laki katanya bule lagi. Hancur, berkeping, terkoyak, tercabik, terjerumus, terpuruk, terjerembab dan tersunggkur dalam setia pada Ninggar.

Cinta seorang buchie =lesbian laki-laki yang gila, tidak logis, hitam kelam seperti lumpur lapindo. Bahasa yang lugas, tanpa tedeng aling-aling menguak kehidupan lesbian yang sekotak itu, dan yang berputar-putar disitu saja, kalau gonta ganti pasangan ya, diantara mereka-mereka juga. Komunitas kecil yang masih marginal ini, memiliki hukumnya sendiri, memiliki kebiasaanya sendiri, bebas memiliki hubungan seknya, dengan radarnya mereka bisa membaca seorang femme atau buchi kah perempuan yang dilihatnya itu? Dan satu lagi yang tak kalah penting, diantara mereka juga saling menyakiti, sama seperti dunia heteroseksual lainnya, ada selingkuh dan ada setia.
Setia sebagai femme?
Setia sebagai buchi?
Setia sebagai biseksual?
Kamu yang mana?

Kaum Lesbian Perjuangkan Keadilan Melalui Buku

Posted in about LINEZ on Agustus 6, 2012 by Rr Andriana

Oleh: Husamah
(Ketua Forum Diskusi Ilmiah Unmuh Malang)

Beberapa hari yang lalu, seorang teman sempat bertanya kepada saya tentang mereka-mereka yang berbeda dengan kondisi lazimnya. Mungkin yang dia maksud adalah waria atau mungkin lesbian. Karena menurut saya pertanyaan tersebut menarik, maka perlu kiranya untuk diuraikan, meskipun hanya fokus pada lesbian saja.

Orientasi seksual lesbian yang tak lazim, berbeda dengan kebanyakan masyarakat menjadikan kelompok lesbian sebagai komunitas marginal. Banyak orang masih homophobia dan beranggapan bahwa lesbian merupakan penyakit atau kelainan. Lesbian, seperti halnya waria dan gay dipandang abnormal, sesuatu yang kotor bahkan khianat terhadap kodrat penciptaan Tuhan. Persepsi ini telah mengakar kuat dalam peradaban masyarakat.

Di zaman Orde Baru, kebanyakan dari mereka belum berani unjuk identitas di ruang publik. Komunitas lesbian di Indonesia sendiri berupa komunitas bawah tanah, belum banyak muncul literatur-literatur kajian studi tentang lesbian. Setelah terbuka lebarnya keran kebebasan pascareformasi, komunitas lesbian berani keluar dari apa yang disebut oleh para teorisi lesbian dan gay dengan “closet”. Mereka keluar dari dunia kepalsuan dan tertekan menuju posisi sosial yang diterima masyarakat. Komunitas lesbian menginginkan mereka dianggap setara dengan kaum heteroseksual.

Lesbianisme, seperti politik identitas lainnya memakai buku sebagai jalan untuk mendapatkan pengakuan tersebut. Mereka percaya bahwa kekuatan buku telah terbukti sejak awal abad lalu di mana politik identitas nasionalisme dinyatakan dengan buku dan efeknya luar biasa. Para pendiri republik menggunakan buku sebagai sarana yang ampuh dalam perjuangan.

Wacana dan gerakan lesbianisme berhadapan dengan bongkah kokoh konservatisme yang dinilai masih sangat diskriminatif terhadap mereka yang berbeda dan dianggap tidak normal. Jika diibaratkan sebagai batu kokoh, buku menjadi pahat yang cukup dahsyat untuk menghancurkannya.

Keyakinan yang besar inilah mungkin mendorong terbitnya buku “Lesbian Laki-Laki” karya aktivis muda kelahiran Yogyakarta, Deojha (Penerbit Pinus, 2006). Buku ini memberikan pesan dan harapan bahwa sudah saatnya masyarakat berfikir secara jernih, rasional, tidak kolot dan tidak sepihak. Lesbian merupakan pemberian (given), anugerah yang di berikan Tuhan kepada seseorang wanita.

Selalu ada rahasia di balik kehendak Tuhan. Begitulah kira-kira buku tersebut mengingatkan. Menerima kodrat terlahir sebagai perempuan adalah kewajiban setiap manusia. Namun bagaimana jika ternyata ada perasaan lain yang Tuhan titipkan dan ternyata itu bertentangan dengan realita semestinya? Menikmati keabnormalan itu bisa jadi pilihan terbaik yang harus dipilih. Perbedaan orientasi seks, kecenderungan untuk mencintai dan menyayangi sesama bukan hal aneh. Itu adalah keanekaragaman yang juga harus sama dihargai, bukannya penyakit yang harus disembuhkan.

Gambaran lesbian dalam anggapan penulis sangatlah jauh dari sosok yang disoroti oleh masyarakat, seperti hanya berorientasi seks atau suka berfoya-foya saja. Lesbian di sini tidak lain adalah seorang wanita yang memiliki rasa cinta suci bahkan mendambakan hidup bersama dengan pujaan hatinya, tentunya juga seorang wanita.

Sebenarnya masih banyak lagi buku yang tujuannya memperjuangkan dunia lesbian. Beberapa judul lain yang berhasil saya lacak adalah Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri (Poedjiati Tan), Memberi Suara Pada Yang Bisu (Dede Oetama), Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan (Ernest J. K. Wen), dan Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatiens). Buku-buku inipun perlu kita pandang dengan bijak.

Sinopsis Buku “Lesbian Laki-Laki”

Posted in about LINEZ on Agustus 6, 2012 by Rr Andriana

Ada yang udah pernah baca buku Lesbian Laki-laki?
Menurut gw ni buku mengungkap beberapa fakta yang baru gw tau..
Ternyata butchi bisa diperkosa perempuan juga :swt

Sinopsisnya :
Benih-benih cintanya muncul sejak usia lima tahun. Namun bukan cinta biasa. karena ia mencintai perempuan yang waktu itu menjadi guru di taman kanak-kanaknya.

Bahkan setelah lebih dari 20 tahun berlalu, hatinya akan tetap menyukai perempuan. Baginya, tidak akan ada laki-laki yang bisa mencintanya karena dirinya adalah wanita yang akan mencintai perempuan selamanya.

Lesbian atau apapun menyebutannya ia anggap sebagai anugrah dari Tuhan. Bahkan menurutnya bukanlah suatu dosa ketika ia harus mengikuti jiwa dan perasaannya untuk mencintai perempuan.

Namun, kisah jalan hidupnya berliku dan terjal. Keberadaan dirinya dalam keluarga sulit diterima apalagi mereka tergolong keluarga ningrat. Sempat pula dikeluarkan dari beberapa pekerjaannya karena diketahui seorang lesbian. Bahkan ia harus menerima suatu perbuatan pelecehan seksual dengan diperkosa di toilet umum oleh seorang perempuan yang suka menyelipkan pemikiran religi dalam setiap perbincangannya.

Sebagai seorang Butchie-wanita yang berposisi sebagai laki-laki dalam lesbian-, kisah cintanya pun mengalami pasang surut. Kejujuran dan ketulusan selalu ternoda oleh penghianatan kekasihnya dengan dalih masa depan dan ketakutan. Kesejatian cintanya selalu terhalang oleh ketidakberanian kekasihnya untuk menghadapi harapan hidup bersama selamanya.